19 June 2009

Menelusuri Pelacuran ABG di Sejumlah Kota (SEMARANG)

Yang Kelas Kumuh dan Kelas Mewah

KETIKA berusia 10 tahun, tujuh tahun lalu, Noni sudah mulai mengenal pria.
Saat itu ia disuruh ‘turun ke jalan’ di Semarang oleh ibu kandungnya,
mengikuti jejak kakak perempuannya.

“Kami diharuskan menyetor sejumlah uang setiap hari,” cerita Noni
mengenang masa lalunya. Tidak terlalu membekas dalam ingatannya, bagaimana
pertama kali ia bergaul dengan pria.

“Sungguh, saya tidak ingat. Yang saya tidak bisa lupa adalah ibu
marah-marah ketika saya pulang tidak membawa uang,” ujarnya. Ia sering
kali disiksa, dipukul dengan gagang sapu, dan diseret keluar dari rumah
karena pulang tanpa hasil.

Karena kenyang pengalaman di lapangan, saat ini Noni menjadi ‘bos’
sejumlah ABG di Semarang. Oleh anak buahnya ia dipanggil dengan sebuatn
‘mami’. Sebagai ‘mami’ muda, Noni juga melayani bila ada pria yang
mengajak.

“Biasanya saya tawarkan anak-anak. Tapi sering kali pria memaksa agar saya
yang menemaninya, ya, terpaksa untuk menyenangkan pelanggan,” ujarnya. ABG
yang menjadi anak buah Noni tidak mangkal di mal atau di tempat-tempat
hiburan seperti klub malam, karaoke, atau diskotek, mereka berkeluyuran di
jalan-jalan.

Noni yang berwajah sensual ini gampang dijumpai di seputar Jalan Pahlawan,
atau bisa menghubungi melalui handphone.

Kalau ada konsumen yang memesan, harganya bervariasi antara Rp 100 ribu
sampai Rp 200 ribu. Yang tarif Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu juga
disediakan oleh Noni.

Salah satu anak ‘asuhnya’ yang tergolong paling imut-imut adalah Wati, 12
tahun. Menurut gadis yang masih ‘bau kencur’ ini, dunia pelacuran
dianggapnya lebih dapat memberikan hasil yang lebih besar dan lebih cepat,
dibandingkan jika dirinya harus ngamen atau berjualan koran.

Sudah dua tahun Wati berada di ‘kegelapan malam’.

Awalnya, dalam usia l0 tahun, ia diperkosa tetangganya saat ia sedang
tidur siang. Ketika kasus itu disampaikan kepada ibunya, Wati justru
dimarahi habis-habisan. Belakangan baru diketahui, bahwa ternyata ibunya
menerima imbalan sejumlah uang dari tetangganya itu.

Mulai saat itulah, Wati turun ke jalanan. Oleh teman-temannya yang
dikenali di jalanan, diberi tahu bahwa cara paling gampang untuk mendapat
uang adalah bersedia melayani laki-laki. Dan ternyata betul, baru beberapa
hari ‘berkeliaran’ di jalan, Wati sudah mampu membeli pakaian bagus,
kosmetik, serta seabrek kebutuhannya layaknya gadis-gadis belia. Bahkan ia
sering kali diajak nonton, pergi ke diskotek.

Gaya hidup ternyata menjadi faktor utama yang mendorong menjamurnya
pelacuran ABG di Semarang.

ABG-ABG kelas bawah bisa ditemui di daerah permukiman kaum urban atau
daerah miskin seperti Bandarharjo, Gunung Brintik, Tandang, Mrican, dan
berbagai perkampungan kumuh lainnya.

ABG jalanan di Semarang memang agak berbeda dengan ABG yang berada di
‘kelas atas’. Keinginannya untuk mencicipi gemerlapnya kehidupan malam
adalah penyebab utama mereka menjual diri. Mereka bisa ditemui di sejumlah
diskotek dan tempat hiburan lainnya.

Mereka tidak semata mencari uang, diajak ‘muter-muter’ naik mobil mewah,
sudah bisa dibawa masuk kamar. Penampilan mereka memang cukup mendebarkan,
mengenakan busana trendy beserta segala aksesoris, sepatu bermerek, parfum
impor, dan handphone.

Mereka juga bisa digaet dengan sebutir pil ekstasi, “Asal diberi sebutir
pil, saya bersedia melanjutkan acara ke hotel,'’ tutur Titin. Gadis 17
tahun yang sudah biasa keluar-masuk diskotek itu, mengaku orang tuanya
tidak terlalu peduli dengan kebiasaannya pulang malam.

Gadis berambut pendek dengan alis mata tebal itu mengakui tak sembarangan
memilih pasangan kencannya. Dia juga tidak memasang jerat di plaza, mal,
atau pusat-pusat pertokoan layaknya teman-temannya. Maklum, dia sudah
cukup lama terjun menjajakan dirinya. Sehingga tahu persis lelaki yang
berkantong padat atau sebaliknya.

Hasrat Titin untuk menelan pil, katanya, dilakukan karena ia ingin
melupakan berbagai persoalan yang ada di rumah. Dalam usia 15 tahun Titin
yang hidupnya serbakekurangan itu telah dikawinkan oleh orang tuanya.
Tetapi karena perkawinan itu sendiri memang bukan kehendaknya, maka ketika
melahirkan anak pertamanya Titin langsung minta cerai.

Dalam kondisi mental yang labil, secara kebetulan seorang tetangganya
mengajaknya ‘dolan-dolan’ ke sebuah diskotek di Jl Gajahmada, Semarang.
‘’Di situlah pertama kali saya mengenal inex, dan pertama kali pula saya
menerima tamu lelaki di hotel. Lumayan juga, diberi uang saku Rp
150.000,'’ kenangnya.

Keenakan dengan inex, mulailah Titin menjadi kecanduan obat. Bahkan di
lingkungan dunia malam ia dikenal sebagai pecandu berat.

Secara terbuka Titin mengakui, kini dia bahkan sudah mencapai dosis yang
berlebihan. Sebutir pil tak lagi mempan membuatnya jadi on. Dia kini sudah
mulai bermain-main dengan jenis sabu-sabu yang juga banyak dijual bebas di
Semarang.

Rasanya? ‘’Oh, lebih nikmat dan lebih panjang. Apalagi kalau digunakan
untuk bercinta, luar biasa,'’ ujarnya mengaku terus terang.

Setiap malam dia biasa melayani tamunya dua orang di sebuah kamar hotel di
kawasan Gombel. Tak merasa capai? Dengan mata berbinar Titin justru
memaparkan fantasi seksual yang sangat luar biasa. “Karena itu, pada
tamu-tamu tertentu saya menyimpan nomor handphone-nya,'’ ucapnya genit.

Lain lagi dengan Ina, 16 tahun, yang juga sangat menyukai dunia malam.
Tetapi tidak gampang untuk diajak chek in ke hotel. “Yang saya lakukan
hanya untuk menemani tamu. Kalau menemani tamu biasanya saya mendapatkan
tips, selain minum-minuman yang enak. Tetapi kalau tamunya mau cari
booking-an, saya carikan teman lain yang mau. Biasanya setelah itu saya
diberi uang lagi oleh tamunya,'’ ujar Ina.

Dari pengakuannya Ina memang cukup selektif memilih cowok pasangannya.
Selain masih sebaya dan sama-sama muda, syarat yang lain juga harus naik
mobil sendiri. “Kalau tidak selera lebih baik pulang tidur saja Mas,”
ujarnya.

Ina mengaku kurang menyukai lelaki yang jauh lebih tua dari usianya.
Alasannya, karena dia masih menyukai cara-cara berpacaran dibandingkan
dengan ‘jual-beli’. Karena itulah, ia tidak pasang tarif tertentu. “Asal
saya suka, cukup sekadar ongkos taksi saja,'’ katanya.

Pelacur ABG di Semarang juga disebut ciblek. Selain di diskotek, para
pelacur ABG ini juga banyak ditemui di kafe-kafe atau kedai-kedai lesehan
kawasan Simpang Lima, Jl Pahlawan, Jl Pemuda atau Jl Pandanaran. Mereka
biasanya selalu bergerombol dua-tiga orang, sambil minum minuman hangat.

TASIKMALAYA - JAWABARAT.

Menggaet Mangsa di Depan ATM

SEORANG gadis remaja berdiri di antara antrean orang-orang yang akan
melakukan transaksi di sebuah ATM di salah satu mal di Jl HZ Mustofa,
Tasikmalaya, Jawa Barat.

Keke nama gadis itu, usianya 16 tahun. Antre di depan ATPM adalah cara
gadis ABG satu ini dalam menggaet mangsanya. “Yang mengambil uang di sini
pasti banyak uangnya,” kata Keke yakin. Ia menuturkan, teman-temannya juga
melakukan cara itu.

Di Tasikmalaya, gadis ABG semacam Keke, disebut anyanyah. Melihat gaya
Keke, sepintas sangat polos.

Namun di balik kepolosannya itu, putri ketiga dari empat bersaudara yang
kini yng masih duduk di bangku kelas III salah satu SLTP swasta di
Tasikmalaya (Jabar), ternyata menyimpan banyak pengalaman yang tidak kalah
bersaing dengan wanita tuna susila (WTS) yang sudah kenyang pengalaman,
termasuk pengalamannya berkencan dengan pria dari berbagai kelompok usia.

Kalau melihat latar belakang keluarganya, Keke tidak semestinya terjun ke
dunia prostitusi ABG. Karena sang ayah adalah mantan pejabat teras di
Tasikmalaya yang kini beralih profesi menjadi pengusaha sukses di Ciamis.

Keke mulai terjun ke dunia prostitusi ABG sejak kelas II SLTP, ia memiliki
wajah dan postur tubuh yang tidak kalah menariknya dengan artis-artis ABG
yang sering kita lihat di televisi.

Sepintas Keke mirip artis bom seks Sarah Azhari yang terlibat kasus foto
porno. Wajar apabila banyak orang yang ingin tahu, apa sebenarnya yang
melatarbelakangi gadis cantik sampai terjun ke dunia prostitusi.

Keke menceritakan pengalamannya mulai dari serbaketakutannya menghadapi
dunia di luar rumahnya, hingga timbul keberanian melayani pria hidung
belang. Bahkan, Keke tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah menjadi
wanita penghibur papan atas dan menjadi gadis rebutan pria berduit.

Bermula dari kecemburuannya terhadap wanita simpanan bapaknya, umur si
wanita tersebut tidak jauh dari umurnya. Keke sempat tergoncang, apalagi
setelah mengetahui orang tuanya bercerai, terlebih yang melatarbelakangi
perceraian orang tunya itu setelah ibunya mengetahui ayahnya berselingkuh
dengan wanita lain. Setelah orang tuanya bercerai, Keke memilih tinggal
bersama ayahnya, karena Keke masih membutuhkan biaya sekolah.

Kecemburuan Keke semakin menjadi, setelah ia sering melihat ayahnya
berduaan dengan teman kencannya, ditambah pernah memergoki ayahnya sedang
bermesraan dengan pacarnya di ruang tamu.

Lalu lama-kelamaan Keke merasakan ada gejolak seks di tubuhnya, ditambah
dengan keseringan nonton VCD porno bersama teman-teman sekolah.

Semula Keke menolak saat diminta menceritakan pengalamannya terjun ke
dunia prostitusi, “Sudahlah, saya jadi menyesal menuturkan segala
pengalaman saya, tapi tidak apalah itu kan pengalaman yang tidak mungkin
terlupakan,'’ kata Keke dengan nada suara sedikit gugup. Kegugupan Keke
sangat kelihatan sekaligus mencerminkan bahwa dirinya belum lama terjun ke
dunia prostitusi.

Keke meminta agar tidak ditulis nama lengkapnya. ‘’Maklum ayah saya sering
baca koran dan pengalaman saya ini takut dibaca keluarga saya di rumah,'’
kata Keke.

Keke juga berkencan dengan pria asing. Kencan terakhirnya dengan pria
setengah baya warga negara Jepang yang baru dikenalnya dua hari di pusat
perbelanjaan.

Meski usianya masih muda belia, Keke lebih suka berkencan dengan usia jauh
di atasnya. Menurutnya, berkencan dengan pria setengah baya sangat
menyenangkan serta tidak banyak menuntut. Berbeda jika berkencan dengan
usia muda. Menurutnya, selain rewel juga banyak menuntut yang aneh-aneh.

Keke menuturkan, berkencan dengan pria warga negara asing lebih mendalam.
Pria asing jika berkencan seolah dirinya dianggap istrinya sendiri.
‘’Malah ujung-ujungnya, pria asing tersebut ingin menikahi saya,'’ aku
Keke seraya tertawa.

Di seputar Jalan HZ Mustofa, Kotif Tasikmalaya, memang tempat nongkrong
pada ABG. Mereka biasanya menikmati hidangan kafetaria yang terletak di
lantai II gedung pusat perbelanjaan.

Tarif mereka bervariatif mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 500.000 sekali
kencan. Tidak hanya itu, mereka juga memasang tarif khusus bila kencan
tidak sampai berhubungan badan.

Misal bila hanya ingin memegang payudara, si pria iseng akan dikenakan
tarif Rp 15 ribu, paha Rp 10 ribu, berciuman Rp 25 ribu, dan memegang alat
vital Rp 50 ribu.

Para pelacur ABG yang di Tasikmalaya dikenal dengan sebutan anyanyah ini
tidak hanya nongkrong di pusat perbelanjaan (mall-dept store) melainkan di
sejumlah cafe dan hotel.

Misalnya di Hotel Padjadjaran Jalan Ir H Juanda dan Hotel Ramayana Jalan
Raya Indihiang. Para pelacur ABG mulai melakukan aksinya sekitar pukul
21.00 WIB. Cara mereka untuk menarik perhatian pria hidung belang sangat
beragam.

Ada yang memberikan nomor hand phone-nya ke pegawai hotel, juga ada di
antara mereka ada yang langsung menunggu di ruang tamu hotel. Cara
demikian sering dilakukan oleh ABG yang sudah memiliki germo resmi. Tarif
mereka antara Rp 150 ribu sampai dengan Rp 300 ribu.

“Itu bukan harga mati, apabila si pria bisa merayunya harga untuk
berkencan tidak sampai demikian, bisa saja gratis atau hanya membayar
kamar hotel. Jadi gimana kitanya,'’ ujar salah seorang karyawan hotel di
Tasikmalaya.

Cara lain yang lebih unik yang banyak dilakukan oleh para pelacur ABG
yakni dengan berpura-pura belanja atau sekadar mengambil uang di ATM yang
terletak di dalam mal, cara unik ini tidak bisa dilakukan oleh pelacur ABG
sembarangan, karena dengan cara tersebut hanya pelacur ABG berparas cantik
dan berpenampilan glamour yang bisa melakukannya. Dengan cara demikian,
pria yang berhasil mereka pancing kebanyakan orang menengah ke atas.

Sejak merebaknya sejumlah mal dan departement store di Tasikmalaya, para
pelacur ABG semakin merajalela. Kebanyakan para ABG masih berstatus
pelajar (SLTP dan SMU) serta mahasiswi.

1 comment:

Biboo Clov said...

eh gan .. yang di semarang gimana caranya ente ketemu ma mreka? ane da tgs ni mw wawancara tapi ane g tw papa tntg psk ... blh mnta tu nomor2 cwenya ga gan ? ane bnr2 bbbuuuuuttttuuuuhhhhhhh bgt